FEATURE: Arema Ikhlas Dihukum Berat

11 Oktober 2018 - 7:27 pm 118 Views
dedik setiawan arema fc

Arema FC memastikan menerima hukuman yang dijatuhkan PSSI terkait insiden kurang terpuji saat duel sarat gengsi versus Persebaya Surabaya, pekan lalu. GORILASPORT

MALANG (GORILASPORT) Ikhlas menjadi kata yang diucapkan CEO Arema FC Iwan Budianto saat mengetahui sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada manajemen Singo Edan terkait sejumlah kejadian di pertandingan versus Persebaya Surabaya, pekan lalu. Arema harus menggelar partai usiran tanpa penonton hingga Liga 1 musim ini berakhir.

Komdis juga menjatuhkan hukuman kepada dua suporter Arema, yaitu Yuli Sumpil dan Fandy, karena memprovokasi penonton lain dengan cara turun ke lapangan. Keduanya dihukum tidak boleh masuk stadion sepak bola di wilayah Republik Indonesia seumur hidup. Manajemen juga harus membayar denda Rp100 juta atas penyalaan flare dan pelemparan botol ke lapangan.

READ MOREDua Hal Akan Dilakukan Persebaya Saat Lawan Borneo

Menurut Iwan, pihaknya bisa menerima hukuman yang dijatuhkan, meski sebenarnya sangat berat dan merugikan. Namun, demi kebaikan bersama dia rela. Iwan mengaku ingin hukuman yang diterima akibat ulah kurang baik pada pertandingan melawan Bajul Ijo tersebut disikapi secara positif oleh Aremania.

“Jangankan dihukum sampai akhir musim, sejujurnya Arema ikhlas jika harus dihukum 10 tahun tanpa penonton dan sanksi lainnya, asalkan mampu membawa revolusi perubahan perilaku positif bagi suporter Indonesia. Kita siap menjadi martir perubahan kebaikan dalam sepak bola kita,” kata Iwan.

READ MORETekad Irfan Jaya Jaga Konsistensi demi Piala AFF

Berdampak pada Ekonomi

Iwan menjelaskan, hukuman tersebut juga akan berdampak pada sisi ekonomi klub sebagai sebuah entitas bsinis. Sebab, dengan menggelar laga tanpa penonton, maka ada sejumlah klausul dengan sponsor yang harus diperbaharui. “Hentikan perdebatan. Tapi, kita perlu bangkit, bersatu, untuk berubah lebih baik. Jika perlu kita harus lebih sering bertemu, berdiskusi, dan berbicara dari hati ke hati agar kejadian serupa tidak terulang,” ungkap Iwan.

“Nasib karyawan Arema juga terdampak. Namun, kita tidak akan mengajukan banding. Kami akan berada di barisan terdepan untuk membangun kesadaran para suporter, khususnya Aremania, agar berubah menjadi lebih baik. Jadikanlah hukuman ini sebagai perenungan massal,” pungkas pria berusis 44 tahun itu. ARDI