FEATURE: Eks Sriwijaya FC Lelang Jersey untuk Korban Gempa

10 Oktober 2018 - 8:45 pm 43 Views
Mahrez- Gempa Palu web

Mantan kiper Sriwijaya FC yang juga korban gempa bumi di Palu, Ferry Rotinsulu, melelang jersey bersejarahnya untuk membantu korban lainnya. GORILAPSORT

PALEMBANG (GORILASPORT) Gempa bumi dan tsunami yang menghantam Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya Palu dan Donggala, memunculkan simpati dari komunitas sepak bola di seluruh dunia. Jika Manchester City (Man City) dan Riyah Mahrez mengirimkan video dukungan untuk seorang bocah korban bencana, maka Sriwijaya FC punya cara lain.

Sriwijaya terlibat dalam lelang jersey mantan kipernya, Ferry Rotinsulu, yang menjadi salah satu saksi mata dan korban tragedi kemanusiaan di Palu tersebut. Dalam program itu, Ferry melepas enam buah jersey yang empat diantaranya sudah terjual dengan nilai nominal beragam. Salah satu jersey miliknya langsung dibeli manajemen Laskar Wong Kito.

READ MORE: FEATURE: Video Mahrez untuk Bocah Korban Gempa Palu

Secara khusus, Ferry langsung menyerahkan jersey kesayangannya itu ke manajemen yang diwakili Sekretaris PT SOM Faisal Musyid dan Asisten manajer Ahmad Haris. “Perhatian Sriwijaya ini sebagai ikatan batin kami dengan Ferry. Apa pun itu, Ferry tidak bisa dipisahkan dari sejarah Sriwijaya. Saat ini dia sedang tertimpa musibah, rumah keluarganya banyak yang hancur. Tentu saja ini mengundang keprihatinan klub,” kata Faisal.

Ferry mengatakan dirinya juga akan ikut serta pada kegiatan amal di Palembang Icon Mall, Minggu (14/10/2018) sebelum kembali ke Palu karena masih memiliki dua jersey lagi yang akan dilelang. Bagi Ferry, bukan perkara nominal uang yang bisa didapatkan. “Saat musibah terjadi saya berniat untuk turut membantu dengan cara melelang jersey. Bagi saya, jersey-jersey ini memiliki nilai historis yang luar biasa. Tapi, tidak apa-apa. Ini sudah niat saya demi membantu korban,” kata Ferry.

READ MOREKalahkan Perseru, Persija Tempel Persib

Masih Trauma

Saat kejadian, Ferry sedang berada di Desa Salombone, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, untuk persiapan menghadiri acara doa untuk ibunda tercinta yang telah meninggal kurang lebih satu pekan sebelumnya. Ferry melihat dan merasakan langsung bagaimana gempa memporak-porandakan kampung halamannya. “Saat kejadian saya sedang mandi, saya hanya bisa berdiam diri dan pasrah saja. Pintu tidak bisa dibuka, karena rusak. Kalau teringat, saya benar-benar masih trauma. Bahkan hingga kini,” kata Ferry.

Ferry menceritakan, setidaknya ada 20 rumah milik sanak dan saudaranya mengalami kerusakan parah, termasuk kediaman miliki orang tuanya. Dia merasa cukup beruntung karena tidak banyak korban jiwa di kampungnya lantarannya desanya dilindungi bukit setinggi 500 meter. “Hingga kini, masih ada seorang tante saya yang belum diketahui kabarnya karena dia tinggal di kampung lain yang dihantam tsunami,” pungkas Ferry. ARJA