AJANG INOVASI

2 Februari 2018 - 11:00 am 180 Views

Sejak menjadi orang nomor satu di Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) pada 26 Januari 2007 hingga 21 Desember 2015, Michel Platini melakukan banyak terobosan. Dua diantaranya Liga Negara Eropa (UEFA Nations League) dan Piala Eropa 2020. Digelarnya Liga Negara Eropa mulai 2018/2019 dan format baru Piala Eropa mulai 2020 di 12 kota merupakan kemenangan terakhir Platini. Pasalnya, akibat skandal korupsi FIFA, mantan bintang Juventus itu pada 2015 harus menerima kenyataan pahit skorsing 4 tahun dari semua aktivitas sepak bola. Meski ternoda dengan perbuatan tercela bersama mantan bos besar FIFA, Sepp Blatter, munculnya Liga Negara Eropa dan Piala Eropa 2020 otomatis akan menghapus “dosa” Platini. Sebab, dengan sistem yang meniru Liga Champions, Liga Negara Eropa adalah kompetisi yang sama sekali baru. Total, 55 anggota UEFA akan dibagi dalam empat divisi. Layaknya Premier League atau La Liga, sistem promosi-degradasi diterapkan. Liga A dan B terdiri dari 12 tim, lalu Liga C 15 tim, dan Liga D 16 tim. Di tiap divisi terbagi lagi dalam empat grup. Mereka akan bertanding kandang-tandang sebelum akhirnya tampil di fase knock-out.  Hadirnya Liga Negara Eropa disambut positif oleh asosiasi-asosiasi sepak bola di bawah UEFA. Selain memperbanyak pertandingan antarnegara, kompetisi baru yang meniru Liga Champions itu juga akan mendatangkan pemasukan finansial yang lumayan. Berbeda dengan pertandingan-pertandingan uji coba internasional yang penyelenggaraannya tergantung tiap asosiasi, Liga Negara Eropa digelar layaknya Liga Champions, Liga Europa, atau Piala Eropa yang langsung ditangani UEFA. Dengan sponsor yang akan didapatkan plus stasiun televisi yang berniat menayangkan, bisa dipastikan setiap kontestan akan mendapatkan pemasukan besar. Meski hingga kini UEFA belum bersedia mengungkapkan berapa nominal yang diterima para peserta dari hadiah tampil, sponsor, maupun televisi, kemungkinan besar uang yang akan beredar sangat besar. Jika mengacu pada Liga Champions, tim juara bisa mendapatkan minimal uang 57,2 juta euro. Itu belum termasuk market pool.  Artinya, jika pada 2014/2015 Barcelona mendapatkan total 61 juta euro setelah juara Liga Champions, maka setidaknya juara Liga Negara Eropa 2018/2019 bisa mendapatkan minimal setengahnya. Namun, tentu saja hal itu bisa berubah karena UEFA belum menjelaskan aspek komersial kompetisi baru ini.